Maulid Nabi: Sebuah Pengagungan yang Keliru

Pembaca rohimakumulloh, sudah menjadi tradisi yang berkembang di masyarakat Indonesia pada setiap tanggal 12 Rabiul Awwal diadakan sebuah acara yang bernafaskan Islam. Perayaan ini lebih sering dikenal dengan nama Maulid Nabi. Sekilas, tidak ada masalah dengan perayaan maulid ini. Namun di balik itu semua, terdapat sebuah permasalahan agama yang sangat besar yang telah dilanggar oleh para pelaku perayaan ini. Masalah tersebut adalah pelanggaran terhadap syariat Alloh dengan melakukan sebuah kebid’ahan. Beberapa hal yang merupakan pelanggaran syariat terkait dengan perayaan Maulid ini adalah sebagai berikut.

Pertama, perayaan Maulid tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam semasa hidup beliau. Tidak pernah diriwayatkan dalam satu hadits yang shahih bahwa beliau merayakan ulang tahun kelahiran beliau sendiri. Cukuplah hal ini menjadi dasar bagi kita untuk menolak perayaan maulid ini karena perayaan Maulid ini merupakan bentuk ibadah dan pendekatan diri pada Alloh yang tidak ada contohnya dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal suatu perbuatan yang tidak ada keterangannya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim) dan sabda beliau yang lainnya, “Barang siapa mengada-adakan suatu perbuatan dalam agama kami yang bukan merupakan agama ini, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Kedua, setelah wafatnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, para shahabat maupun para ulama yang memegang teguh sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam seperti imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafii dan Ahmad) dan yang lainnya, tidak pernah merayakannya. Jika perayaan Maulid Nabi ini merupakan kebaikan dalam agama ini, niscaya para shahabat sudah terlebih dahulu mendahului kita dalam melakukannya.

Ketiga, perayaan Maulid Nabi ini merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang Nasrani yang juga merayakan kelahiran Nabi Isa ‘alaihi salam yang mereka sebut dengan perayaan Natal. Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud, shohih). Namun, suatu hal yang sangat memprihatinkan, sebagian kaum muslimin berdalih dengan adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad untuk membenarkan bahkan mengikuti perayaan Natal kaum Nasrani, wallohul musta’an.

Keempat, adanya tindakan-tindakan yang mengarah kepada kesyirikan -bahkan sudah termasuk dalam kesyirikan- pada peringatan maulid ini. Hal ini dapat dilihat pada beberapa bait syair yang didendangkan dalam peringatan Maulid (Lihat Al-Firqotun Najiyah karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu) maupun pada prosesi Maulid itu sendiri, seperti berdirinya orang-orang dengan keyakinan bahwa Rosululloh datang menghadiri perayaan Maulid tersebut. Subhanalloh!! ini adalah sebuah kebodohan yang sangat nyata.

Kelima, pemborosan harta yang sia-sia yang digunakan untuk perayaan ini. Karena perayaan ini adalah sebuah kebatilan, maka harta yang digunakan untuk membiayai kegiatan ini adalah harta yang digunakan secara sia-sia. Padahal, jika kita memperhatikan kegiatan maulid yang dilakukan di seluruh nusantara, maka kita dapati bahwa biaya yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan ini tidaklah kecil. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al Isra: 26, 27)

Sesungguhnya jika akan disebutkan kesalahan-kesalahan perayaan Maulid yang lain sangatlah banyak. Lembar Ziyadah ini tidak akan cukup untuk menyebutkannya satu persatu. Oleh karena itu jelaslah bagi kita bahwa perayaan Maulid bukanlah merupakan sebuah tuntunan dalam syariat agama Islam ini, namun hal tersebut merupakan sebuah pengagungan kepada Rosul yang keliru.

Kita berdoa kepada Alloh semoga Ia senantiasa menjadikan kita semua orang-orang yang mengikuti sunnah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam di sepanjang kehidupan kita karena tidak ada keselamatan dan kemenangan kecuali dengan mengikuti sunnahnya. Tak lupa kita berdoa semoga Alloh Ta’ala senantiasa menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan bid’ah baik dalam pemikiran, keyakinan, perkataan maupun perbuatan yang telah diada-adakan oleh para pengekor hawa nafsu karena hal tersebut merupakan pintu kebinasaan. Amiin ya mujibbassaailiin.

***

Sumber: Buletin At-Tauhid
Tingkat pembahasan: Pemula

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: