Peran Masjid Dan Hal-Hal Yang Perlu Ditempuh

Halaman ke-2 dari 2

Dari itu, semua ahli ilmu dan imam dari kalangan para penguasa dan lainnya di seluruh negara Islam dan lainnya, hendaknya ikut menyampaikan risalah Allah, mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka dengan disertai hikmah dan kelembutan serta cara-cara yang sesuai, yaitu yang bisa mendorong manusia untuk menerima kebenaran dan tidak membuat mereka lari dan antipati, sebagaimana yang dtunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” [An-Nahl : 125]

“Artinya : Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka.” [Al-Ankabut : 46]

“Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, ‘ Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” [Fushshilat : 33]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada NabiNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali Imran : 159]

Ketika memerintahkan Musa dan Harun untuk menemui Fir’aun Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [Thaha : 44]

Dalam hadits shahih yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan, bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya, tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecual ia akan membaguskannya, dan tidaklah (kelembutan) itu tercabut dari sesuatu, kecuali akan memburukkannya”[7]

Beliau juga pernah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang tidak terdapat kelembutan padanya, maka tidak ada kebaikan padanya.”[8]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits lain yang semakna.

Maka kewajiban semua kaum muslimin adalah mempelajari agama mereka dan bertanya kepada para ahli ilmu saat menemukan kesulitan, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka akan difahamkan dalam urusan agama. “[9]

Hendaknya para ahli ilmu dan iman memahamkan manusia, mengajari mereka dan menyampaikan kepada mereka ilmu yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka, berlomba-lomba dalam kebaikan ini, bersegera untuk melaksanakannya dan mengemban tugas mulia ini dengan kejujuran, keikhlasan dan kesabaran, agar bisa utuh dalam menyampaikan agama Allah kepada para hamba-Nya, sehingga bisa mengajarkan kepada manusia apa-apa yang diwajibkan Allah atas mereka dan apa-apa yang diharamkan atas mereka, baik itu melalui masjid-masjid, halaqah-halaqah keilmuan di masjid dan lainnya, khutbah-khutbah Jum’at dan khutbah-khutban Ied serta kesempatan-kesempatan lainnya. Sebab, tidak setiap orang bisa mengajar di sekolah atau lembaga pendidikan atau perguruan tinggi, dan tidak setiap orang bisa menemukan sekolah yang mengajarkan agama Allah dan syari’atNya yang suci serta mengajarkan Al-Qur’an yang agung sebagaimana diturunkan dan As-Sunnah yang suci sebagaimana yang disampaikan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka para ahli ilmu dan iman wajib menyampaikan kepada manusia melalui mimbar-mimbar radio, televisi, media cetak, khutbah Jum’at, mimbar led, di setiap tempat, dengan pelajaran-pelajaran dan halaqah-halaqah ilmiah di masjid-masjid dan lainnya.

Setiap penuntut ilmu yang dianugerahi pemahaman oleh Allah dalam perkara agama dan setiap alim yang telah dibukakan akalnya oleh Allah, hendaknya memanfaatkan ilmu yang telah diberikan Allah kepadanya, memanfaatkan setiap kesempatan yang memungkinkan untuk berdakwah, sehingga dengan begitu ia bisa menyampaikan apa yang diperintahkan Allah, mengajarkan syari’at Allah kepada masyarakat, mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran, menerangkan kepada mereka hal-hal yang masih samar terhadap mereka di antara perkara-perkara yang diwajibkan atas mereka atau diharamkan Allah atas mereka.

Itulah kewajiban semua ahli ilmu, karena merekalah pengganti para rasul, merekalah pewaris para nabi, maka mereka wajib menyampaikan risalah-risalah Allah, mengajarkan syari’at Allah kepada masyarakat, dan loyal terhadap Allah, kitabNya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin lainnya serta bersabar dalam melaksanakannya.

Kepada para penguasa, hendaknya membantu dan mendukung mereka (para ulama) serta melakukan segala sesuatu untuk memudahkan mereka dalam melaksanakan tugas ini, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

“Artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa.” [Al-Ma’idah: 2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang (membantu) kebutuhan saudaranya, maka Allah (membantu) kebutuhannya.”[10] [Hadits ini disepakati keshahihannya, dari hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu].

Dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Dan Allah senantiasa menolong hambaNya selama hamba itu menolong saudaranya.”[11] [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan petunjuk dan pertolongan kepada kita dan semua kaum muslimin, terutama para ulama dan para penuntut ilmu agar bisa menegakkan kebenaran. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia. Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

[Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 5, hal. 80-85, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerbita Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. HR. Muslim dalam al-Iman (55), dita’liq oleh Al-Bukhari dalam al-Iman.
[2]. HR. Al-Bukhari dalam Ahadits Al-Anbiya (2461).
[3]. HR. At-Tirmidzi dalam Al-‘Ilm (2657); Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah (232) dari hadits Ibnu Mas’ud. Ada pula riwayat seperti ini yang berasal lebih dari seorang sahabat.
[4]. Dikeluarkan oleh Imam AI-Bukhari dalam Al-‘Ilm (67); Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab AI-Qasamah (1218).
[5]. HR. Al-Bukhari dalam Al-Jihad (2942), Muslim dalam Fadha’ilus shahabah (2406).
[6]. HR. Muslim dalam Al-Imarah (1893).
[7]. HR. Muslim dalam Al-Birr wash Shilah (2594).
[8]. HR. Muslim dalam Al-Birr wash Shilah (2592).
[9]. Disepakati keshahihannya: Al-Bukhari dalam Al-Ilm (71); Muslim dalam Az-Zakah (1037).
10]. HR. AI-Bukhari dalam Al-Mazhalim (2442), dalam Al-Birr wash Shilah (2580).
[11]. HR. Muslim dalam Adz-Dzikr (2699).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: