Peran Masjid Dan Hal-Hal Yang Perlu Ditempuh

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Halaman ke-1 dari 2

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sudah banyak orang yang menulis tentang peran masjid dan mimbar dalam Islam. Di antara mereka ada yang mengatakan, “Manusia telah menyimpangkan mimbar dari peranannya.” Ada juga yang mengatakan, “Kita telah kehilangan sesuatu yang bisa menyebabkan berlanjutnya kehidupan ini, yang paling suci di antaranya adalah rumah-rumah Allah, sehingga kita tidak bisa lagi duduk di dalamnya, tidak pula berdzikir maupun belajar.” Ada juga yang mengatakan, “Banyak mimbar digunakan untuk selain berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah, karena mimbar-mimbar itu hanya menyeru hingga hari tertentu dan kelompok tertentu.” Dan seterusnya.

Jawaban.
Tidak diragukan lagi, bahwa masjid dan mimbar adalah dua sarana lama yang digunakan untuk mengarahkan kaum muslimin khususnya dan manusia lain umumnya kepada kebaikan, mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagi manusia dan menyampaikan risalah-risalah Rabb mereka yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Allah telah mengurus para rasul untuk menyampaikan risalah Allah kepada manusia dan mengajarkan syari’atNya kepada mereka. Demikianlah Allah mengutus para rasul sejak Adam Alaihis Sallam, lalu Nuh Alaihis Sallam dan para rasul berikutnya. Semuanya diutus untuk menyampaikan risalah Allah melalui masjid-masjid dan mimbar-mimbar, baik mimbar itu di masjid ataupun di luar masjid, baik mimbar itu berupa bangunan yang paten ataupun yang tidak paten.

Mimbar itu bisa berupa unta, kuda atau binatang lainnya yang biasa ditunggangi, bisa juga berupa tempat yang agak tinggi, yang jelas, dari situ bisa disampaikan risalah-risalah Allah.

Maksudnya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan kepada para hambaNya untuk menyampaikan risalah-risalah Rabb mereka dan mengajarkan kepada manusia apa-apa yang diembankan kepada para rasul melalui berbagai cara. Masjid dan mimbar merupakan sarana paling utama untuk menyampaikan risalah dan menyebarkan dakwah, yaitu risalah agung yang wajib dipedulikan oleh semua ulama dan pengajar manusia. Yang harus dikembalikan kepada perannya semula, yaitu memahamkan manusia tentang perkara-perkara agama mereka melalui masjid, karena masjid merupakan tempat berkumpulnya kaum muslimim dalam kehidupan bermasyarakat mereka.

Mereka juga berkewajiban menyampaikan kepada manusia apa-apa yang diwajibkan atas mereka dalam urusan agama dan dunia mereka melalui jalur lain, seperti; melalui radio, televisi, media cetak, ceramah terbuka, pertemuan-pertemuan khusus, karya-karya tulis dan jalur-jalur lain yang memungkinkan ditempuh untuk menyampaikan syari’at dan risalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Itulah kewajiban setiap pengikut para rasul dan para pengganti mereka dari kalangan ahlul ilmi dan iman, yaitu menyampaikan risalah-risalah Allah, mengajarkan kepada manusia tentang syari’at Allah, agar semua orang memahami, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, yang sejalan maupun yang berseberangan, sehingga hujjah bisa ditegakkan dan alasan bisa dipatahkan.

Para penguasa ataupun lainnya tidak boleh menghalangi masyarakat dari mimbar-mimbar ini, kecuali yang memang diketahui menyeru kepada kebatilan, atau memang tidak berkompeten untuk berdakwah, yang demikian itu harus dicegah di mana saja.

Adapun yang menyeru kepada kebenaran dan petunjuk, dan ia memang berkompeten untuk itu, maka harus didukung dan dibantu menjalankan perannya serta dimudahkan sasaran-sasarannya, yang dengan itu ia bisa menyampaikan perintah dan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagimana firmanNya.

“Artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [Al-Ma’idah : 2]

Dalam ayat lain disebutkan.

“Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr : 1-3]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamw bersabda.

“Artinya : Agama adalah nasehat.” Ditanyakan kepada beliau, “Kepada siapa ya Rasulullah?” beliau jawab, “Kepada Allah, kitabNya, RasulNya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin lainnya” [1]

Dan dalil-dalil lainnya dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

Para ahli ilmu sebagai pengemban Al-Kitab dan As-Sunnah, hendaknya melaksanakan tugas dakwah dan pengajaran serta amar ma’ruf dan nahi mungkar sesuai kesanggupan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” [At-Taghabun : 16]

Hendaknya mereka menyampaikan risalah Allah dimana saja, di masjid, di rumah, di jalanan, di mobil, di pesawat terbang, di kereta api, pokoknya di setiap tempat. Penyampaian dakwah tidak mesti di tempat tertentu, karena penyampaian ini dituntut di setiap tempat, sesuai dengan kesanggupan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” [An-Nahl : 35]

Dalam ayat lain disebutkan.

“Artinya : Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.” [Al-Ma’idah : 67]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sampaikanlah apa yang berasal dariku walaupun hanya satu ayat” [2]

“Artinya : Allah mengelokkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu disampaikannya sebagaimana yang ia dengar. Sebab, banyak yang menyampaikan lebih sadar daripada yang hanya mendengar“ [3]

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bila sedang berkhutbah, beliau mengatakan.

“Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. “

Pada haji wada’, saat di Arafah, beliau berkhutbah di hadapan manusia yang sangat banyak. Di akhir khutbahnya dari atas tunggangannya beliau mengatakan.

“Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Sebab, banyak yang menyampaikan lebih sadar daripada yang hanya mendengar.”

Beliau juga bersabda.

“Ketika kalian ditanya tentang aku, apa yang kalian katakan?”

Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, telah melaksanakan dan telah menasehati.” Lalu beliau berkata sambil memberi isyarat dengan jari telunjuknya yang diacungkan ke langit lalu diturunkan kembali mengarah kepada mereka, ” Ya Allah, saksikanlah, ya Allah saksikanlah. Ya Allah saksikanlah” demikian yang beliau ucapkan.”[4]

Ketika beliau mengutus Ali ke Khaibar untuk mendakwahi kaum Yahudi dan memerangi mereka jika tidak menerima dakwah, beliau berkata kepadanya.

“Artinya : Ajaklah mereka memeluk Islam dan beritahu mereka apa-apa yang diwajibkan atas mereka yang berupa hak Allah di dalamnya. Demi Allah, Allah memberi petunujuk kepada seseorang lantaran engkau, adalah lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta merah.” [5] [Hadits ini disepakati keshahihannya, dari hadits Sahl bin Sa’d Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu]

Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari hadits Abu Mas’ ud Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melaksanakannya.”[6]

Masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengupas tentang dakwah, mengajak manusia ke jalan Allah, membimbing mereka kepada kebaikan, menyuruh mereka berbuat baik dan mencegah mereka dari kemungkaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: